Mendidik anak merupakan suatu kesempatan yang unik. Aku yakin, banyak orang punya kesempatan seperti itu, namun berbeda menjalankannya. Misalkan, seorang guru sekolah dasar atau play group pasti mempunyai kiat-kiat yang berbeda untuk menangani anak yang berbeda. Semakin muda usia si anak, semakin unik penanganannya. Orangtua pun berbeda cara menangani anak-anaknya.
Tujuh tahun lalu, ketika anak pertamaku (perempuan) berusia sekitar 13 tahun, muncullah adiknya (laki-laki). Walaupun aku senang, aku dan isteri sempat bingung karena sudah lama kita tidak punya bayi dan kita merasa sudah lupa dan agak terlalu tua (saya pas 40 tahun). Jarak umur antara kedua anak tersebut sekitar 13 tahun, mirip dengan jarak umur antara saya dengan adik bungsu saya (tapi dengan 5 saudara kandung diantara kita berdua).
Saat blog ini ditulis, anak pertamaku berusia 20 tahun (kuliah tingkat 2) dan pernah mengkritik caraku mengasuhnya pada saat kecilnya. Aku pernah menyatakan bahwa aku minta maaf mengenai hal itu, karena hanya cara itu yang bisa kulakukan pada saat itu. Aku berterimakasih padanya karena dengan kritik tersebut dan pengalamanku mengasuhnya, aku seharusnya bisa mengasuh adiknya dengan lebih baik. Aku bangga dengannya, karena dia sudah mulai berusaha untuk merumuskan tujuan hidup sambil memilih jalan hidupnya sendiri sesuai dengan norma-norma yang telah dia pelajari. Aku yakin bahwa tujuan hidupnya akan selalu berubah dan mudah-mudahan perubahannya akan semakin mendekatkan dirinya pada Yang Maha Kuasa. Sekarang, aku tidak mempunyai penyesalan dan tidak mempunyai angan-angan mengenai anak pertamaku. Artinya aku bersyukur akan apa yang telah terjadi pada anakku. Aku selalu berdoa semoga Yang Maha Kuasa senantiasa membimbingnya.
Adiknya (laki-laki) sangat bertolak belakang dengan kakaknya. Sifat si adik yang jelas kebalikan dari sang kakak adalah selalu berusaha bermain, banyak bicara, selalu berusaha cari teman dan cenderung hiperaktif (kalau tenaganya tak disalurkan). Belajar 5 menit terlalu banyak, sementara bermain seharian masih kurang .......... begitu kira-kira kegiatan sehari-harinya. Kebetulan pada umurnya yang menjelang 7 tahun, banyak yang mengatakan tingkat konsentrasi anak tidak lama. Karenanya kita tidak terlalu pusing mengenai kegiatannya yang banyak mainnya itu. Namun, kita selalu tarik ulur untuk menyalurkan tenaganya ke kegiatan yang positif. Sampai saat ini aku berhasil tidak membeli PS2 atau PSP atau sejenisnya, walaupun dia sering memancing-mancing dengan obrolannya. Aku berusaha menyibukkan dia dengan kegiatan fisik seperti tenis, aikido dan renang. Untuk yang non-fisik, dia sibuk dengan piano dan bahasa inggris. Kegiatannya memang padat, tapi kita monitor sehingga kalau dia terlalu letih, kita biarkan dia istirahat dan absen dari kegiatan tersebut. Dari sekian banyak kegiatannya, kelihatannya dia paling senang tenis. Tapi kita tidak tiadakan kegiatan lainnya karena dia perlu koordinasi seluruh anggota badannya termasuk otaknya (kiri dan kanan). Nanti kalau sudah SMP, kegiatannya tentu tidak sebanyak itu lagi (sesuai dengan keinginannya).
Jadi blog ini dibuat sebagai sarana untuk belajar mendidik anak yang menurut pemahamanku adalah mengantar anak memilih jalan hidupnya secara mandiri. Sarana belajar ini ditujukan untuk siapa saja yang mau (minimal aku sendiri). Dalam situasi kehidupan ini, kadang kita mengalami kesulitan sementara hal yang sama merupakan kemudahan bagi lainnya. Mudah-mudahan blog ini dapat dijadikan ajang pertukaran informasi dan komunikasi untuk mengantar anak memilih jalan hidupnya secara mandiri.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment