Dua minggu lalu (Akhir april 2010), Toni mulai ganti raket 4.25 (standard orang Asia dewasa). Sebelumnya Toni pake 3 5/8 (?). Spesifikasi raket baru tersebut adalah
Merek: babolat
Weight: 280 gr (sebelumnya, Toni pake 235 gr)
Headsize: 645 cm persegi (tidak oversize)
Tension: 54 lbs (pasang ditoko)
Terpaksa beli yang ini karena discount jadi Rp. 400 ribu (berikut snar dan pasang). Padahal kak Avita (pelatih) pake 255 gr dan pak Ahmadi (pelatih) 275 gr. Normalnya, raket itu berharga Rp. 1 juta.
Mulai bulan Mei ini, dengan raket baru tersebut, Toni mulai lagi latihan 2x seminggu di tingkatan intermediate. Namun, Toni sudah tidak lagi les dengan pelatih dari pak Gunawan (JITA Tenis). Toni les di Lebak Lestari dengan pelatih pak Ahmadi dan kak Avita. Toni lebih cocok dilatih oleh beliau, metodanya lebih baik dan biaya lesnya pun lebih terjangkau.
Showing posts with label tenis. Show all posts
Showing posts with label tenis. Show all posts
Wednesday, May 5, 2010
Friday, January 8, 2010
Berhenti dari les tenis di JITA ?
Akhirnya, setelah sekian lama diperkirakan, saya berencana untuk berhenti mengantar Toni menjadi pemain tenis pro. Mengenai tenaga, semangat dan teknik tenisnya, Toni memang di atas rata-rata anak seumurnya. Keterbatasannya lebih terletak pada uang yang diperlukan untuk ke arah petenis pro. Misalnya, baru-baru ini, Toni naik kelas: dari kelas intermediate ke tournament. Tapi biayanya hampir 2 kali lipat dari sebelumnya. Di kelas intermediate, biaya bulanannya adalah Rp. 900 ribu untuk 2 kali latihan seminggu masing-masing 2 jam. Di kelas tournament, biaya bulanannya adalah Rp. 800 ribu untuk 1 kali latihan selama 2 jam dalam seminggu. Berarti sekali les 2 jam, perlu Rp. 200 ribu. Belum lagi keperluan untuk tanding keluar kota selama sekitar 4 hari ditanggung sendiri. Kata pelatihnya juga kalau mengejar untuk dapat uang dari tenis, uang baru akan muncul setelah umur 15 tahunan, itupun kalau memang hebat. Toni sekarang baru 7 tahun. Ibarat berenang di laut, terlalu lama saya harus "menahan nafas" ..... padahal saya hanya pegawai negeri yang tidak menjabat apapun.
Jadi saya akan komunikasikan rencana saya ini kepada pelatihnya: saya akan minta keringanan. Kalau tidak ada, saya akan berhentikan Toni dari tempat latihan tersebut. Saya akan cari tempat latihan yang lebih murah. Kalau tidak memadai karena mengejar biaya murah, mungkin Toni akan bermain saja dengan saya tanpa target macam-macam. Intinya saya hanya berharap bahwa dengan olahraga (termasuk tenis) Toni dapat menjadi orang yang lebih sehat secara jasmani dan rohani sehingga mampu berkarya dengan maksimal.
p.s.: Saya berterimakasih kepada para pelatih tenis yang melatih Toni, terutama kepada pak Ahmadi yang tidak segan-segan membagi ilmunya termasuk kepada saya yang tidak les tenis (walaupun dalam bentuk diskusi), padahal kemampuan tenis saya nyaris nol.
Jadi saya akan komunikasikan rencana saya ini kepada pelatihnya: saya akan minta keringanan. Kalau tidak ada, saya akan berhentikan Toni dari tempat latihan tersebut. Saya akan cari tempat latihan yang lebih murah. Kalau tidak memadai karena mengejar biaya murah, mungkin Toni akan bermain saja dengan saya tanpa target macam-macam. Intinya saya hanya berharap bahwa dengan olahraga (termasuk tenis) Toni dapat menjadi orang yang lebih sehat secara jasmani dan rohani sehingga mampu berkarya dengan maksimal.
p.s.: Saya berterimakasih kepada para pelatih tenis yang melatih Toni, terutama kepada pak Ahmadi yang tidak segan-segan membagi ilmunya termasuk kepada saya yang tidak les tenis (walaupun dalam bentuk diskusi), padahal kemampuan tenis saya nyaris nol.
Saturday, November 7, 2009
Istirahat dari latihan tenis privat
Mulai bulan November ini, Toni istirahat dahulu dari latihan tenis privat. Hal ini memang disarankan oleh pelatih privatnya (pak Achmadi). Beliau melihat bahwa Toni mulai terlihat BT (Boring Total), karena kurang main dengan teman seusianya. Latihan privatnya menjadi tidak efektif, karena hal sederhana yang seharusnya dilakukan malah tidak dilakukan. Hampir setiap gerakan Toni perlu instruksi, padahal sebelumnya tidak demikian. Saya pun kuatir, beberapa kali latihan privat lagi dia akan menangis setiap kali akan berangkat.
Sebagai gantinya, latihan tenis privat tersebut diganti menjadi latihan tenis kelompok. Jadi, Toni 2 kali latihan tenis kelompok, 1 jam setiap kali latihan. Kelihatannya sih ok-ok saja. Mudah2an teknik yang sudah diajarkan pada saat privat tidak lenyap.
Sebagai gantinya, latihan tenis privat tersebut diganti menjadi latihan tenis kelompok. Jadi, Toni 2 kali latihan tenis kelompok, 1 jam setiap kali latihan. Kelihatannya sih ok-ok saja. Mudah2an teknik yang sudah diajarkan pada saat privat tidak lenyap.
Sunday, August 16, 2009
Dua gigi seri atas dicabut
.jpg)
Kemarin, dua gigi seri atas Toni dicabut oleh drg Sinky. Sebenarnya, gigi tersebut adalah 2 gigi yang terkena raket tenis. Sampai sebelum dicabut, aku curiga kemungkinan gigi baru sudah mulai mendesak gigi lama yang terkena raket (karena kok makin hari makin goyang dan posisi gigi lama makin aneh). Untunglah, gigi yang terkena raket bukan gigi permanennya. Selanjutnya, gigi yang akan perlu lepas lagi adalah gigi seri bagian bawah kiri dan kanan (bukan yang bawah depan, karena sudah ganti). Pada gambar terlihat betapa "bangganya" dia dengan keompongannya. Mudah-mudahan keompongan tersebut tidak akan terulang ...
Monday, August 10, 2009
Kecelakaan Tenis
Di usia 7 tahun kurang sebulan ini, Toni (anak lakiku) mulai "menikmati indahnya" olah raga tenis dan pada saat tersebut saya sedang keluar sebentar (tidak melihat peristiwanya).
Tiga minggu lalu, gigi seri atasnya terkena raket hingga gigi tersebut sedikit goyang dan gusi berdarah. Pada saat kejadian, saya sedang berada di luar areal latihan. Ketika kembali, saya mendapatinya masih bermain tapi terlihat lelah dan malas bermain (padahal sebelum saya tinggal tidak demikian). Aku tanya: "kenapa mainnya tidak semangat ?" Eh malah dia menangis dan menceritakan kejadian tersebut. Kulihat giginya, masih utuh (walaupun katanya goyang). Darah tidak ada (walaupun katanya tadi berdarah). Langsung saja aku bilang "tak apa kok. Yang penting kalau main janga lupa pakai kuda-kuda supaya lebih seimbang". Lalu dia kembali main. Sepuluh menit kemudian, semangatnya kembali seperti semula dan dia terlihat menikmati latihan tenis tersebut. Dua hari kemudian, keadaan giginya normal kembali.
Kemarin, bola tenis menumbuk mata kanannya dengan penghalang hanya kelopak matanya. Terlihat ada bercak merah di bola mata putihnya. Kecelakaan ini yang aku takutkan, karena dapat berpengaruh pada penglihatan. Aku pernah dengar dari salah satu pelatihnya bahwa beliau berhenti bermain dan menjadi pelatih karena kemampuan matanya beradaptasi terhadap cahaya pada salah satu matanya berkurang setelah matanya terkena bola tenis. Malam itu sampai dengan pagi di hari berikutnya, Toni hanya aku bantu agar semangatnya tidak turun. Siang ini (sekitar jam 10 pagi), ia akan di antar ke rumah sakit mata AINI. Isteriku dan aku berharap matanya bisa segera kembali normal.
Tiga minggu lalu, gigi seri atasnya terkena raket hingga gigi tersebut sedikit goyang dan gusi berdarah. Pada saat kejadian, saya sedang berada di luar areal latihan. Ketika kembali, saya mendapatinya masih bermain tapi terlihat lelah dan malas bermain (padahal sebelum saya tinggal tidak demikian). Aku tanya: "kenapa mainnya tidak semangat ?" Eh malah dia menangis dan menceritakan kejadian tersebut. Kulihat giginya, masih utuh (walaupun katanya goyang). Darah tidak ada (walaupun katanya tadi berdarah). Langsung saja aku bilang "tak apa kok. Yang penting kalau main janga lupa pakai kuda-kuda supaya lebih seimbang". Lalu dia kembali main. Sepuluh menit kemudian, semangatnya kembali seperti semula dan dia terlihat menikmati latihan tenis tersebut. Dua hari kemudian, keadaan giginya normal kembali.
Kemarin, bola tenis menumbuk mata kanannya dengan penghalang hanya kelopak matanya. Terlihat ada bercak merah di bola mata putihnya. Kecelakaan ini yang aku takutkan, karena dapat berpengaruh pada penglihatan. Aku pernah dengar dari salah satu pelatihnya bahwa beliau berhenti bermain dan menjadi pelatih karena kemampuan matanya beradaptasi terhadap cahaya pada salah satu matanya berkurang setelah matanya terkena bola tenis. Malam itu sampai dengan pagi di hari berikutnya, Toni hanya aku bantu agar semangatnya tidak turun. Siang ini (sekitar jam 10 pagi), ia akan di antar ke rumah sakit mata AINI. Isteriku dan aku berharap matanya bisa segera kembali normal.
Saturday, August 8, 2009
Berhenti bermain tenis dengan bola empuk
.jpg)
Seminggu sebelum anakku berhenti kumon, dia kuberhentikan dari latihan tenis dengan bola empuk. Pemberhentian tersebut terutama adalah karena kemampuan baca bola menjadi terganggu karena adanya kombinasi penggunaan bola normal dan bola empuk. Berikut ini adalah penjelasan mengapa keputusan tersebut kuambil.
Penggunaan bola empuk bermanfaat bagi pemula. Karena empuknya, benturan antara bola dengan senar raket tenis teredam. Hal ini mencegah cederanya tangan si anak yang masih relatif lemah. Kegunaan kedua adalah bahwa dengan bola tersebut, pantulannya tidak terlalu cepat sehingga lebih sesuai untuk kemampuan pemula. Keuntungan ketiga adalah bahwa karena empuknya, pemula seharusnya bisa bebas memukul bola tanpa takut sehingga kemampuan koordinasi dasarnya berkembang.
Namun anakku sudah sejak awal tahun ini tidak lagi pada level pemula di tempat les di CiToS. Awal tahun lalu dia menggunakan bola yang 70% normal dan sekarang sudah 100% normal untuk pertandingan tenis. Sampai bulan Juli berakhir lalu, dia juga ikut les di BSD yang menggunakan bola empuk karena pelatihan itu memang ditujukan untuk pemula. Karena targetnya yang berbeda tersebut, maka sejak Agustus dan seterusnya, kuputuskan latihan tenis dengan bola empuk. Akibatnya, sekarang anakku bisa "membaca bola" untuk bola normal dengan lebih baik. Dia lebih tahu kemana dia harus mengambil posisi untuk menggunakan teknik tenis yang benar memukul bola tenis normal. Gambar di atas adalah gambar pak Achmadi, salah seorang pelatih tenisnya di CiTos..... terimakasih pak Achmadi.
Wednesday, August 5, 2009
Tenis Forehand
Sampai hari ini, aku masih mencari cara bagaimana agar tenis forehand anakku (tidak kidal, usianya menjelang 7 tahun) dimulai tidak terlalu jauh kebelakang. Kecenderungan yang sering dijumpai kalau forehand tersebut seperti itu adalah bahwa 1) contact point antara raket tenis dengan bola terlalu dekat dengan badan dan 2) kadang sendinya tertarik sehingga sedikit sakit serta 3) sulit menerima bola cepat. Contact point yang terlalu dekat dengan badan mengakibatkan bola tidak cepat sampai ke lapangan lawan.
Pelatihnya sudah mencoba memulai dengan umpan bola dekat dan bola jauh sambil memberitahunya baik jika ada kesalahan maupun tidak. Aku juga sudah mencoba mengajaknya bermain sambil memberi tahunya. Berkali-kali dia mengatakan pukulan dimulai tidak terlalu kebelakang, padahal kenyataannya memang terlalu kebelakang. Hari ini, aku akan mencoba agar dia menggunakan forehand dengan dua tangannya memegang raket tenis. Aku berharap, tangan kirinya akan secara otomatis mencegah tangan kanannya memulai pukulan dengan posisi terlalu kebelakang. Aku akan mulai dengan memberi umpan bola dekat dahulu. Mudah-mudahan berhasil ..... Kalau tidak, aku akan cari cara lain lagi..... atau mungkin ada saran ???
Pelatihnya sudah mencoba memulai dengan umpan bola dekat dan bola jauh sambil memberitahunya baik jika ada kesalahan maupun tidak. Aku juga sudah mencoba mengajaknya bermain sambil memberi tahunya. Berkali-kali dia mengatakan pukulan dimulai tidak terlalu kebelakang, padahal kenyataannya memang terlalu kebelakang. Hari ini, aku akan mencoba agar dia menggunakan forehand dengan dua tangannya memegang raket tenis. Aku berharap, tangan kirinya akan secara otomatis mencegah tangan kanannya memulai pukulan dengan posisi terlalu kebelakang. Aku akan mulai dengan memberi umpan bola dekat dahulu. Mudah-mudahan berhasil ..... Kalau tidak, aku akan cari cara lain lagi..... atau mungkin ada saran ???
Subscribe to:
Posts (Atom)