Terkadang aku bingung dengan yang satu ini: ilusi. Menurut
http://www.thefreedictionary.com/illusion
salah satu definisi dari ilusi adalah "
An erroneous perception of reality". Terjemahan bebas dari ilusi adalah persepsi sesat dari suatu kenyataan. Banyak miskonsepsi yang bisa timbul dari ilusi dan pahitnya lagi menggiring kearah spekulasi.
Aku bingung melihat banyaknya iklan di TV yang menampilkan banyaknya ilusi mengenai produk yang tujuannya adalah agar iklan tersebut menarik sehingga produk tersebut dibeli. Lebih bingung lagi adalah bahwa banyak dari produk yang diberi ilusi tersebut adalah produk yang ditujukan untuk anak. Iklan yang menyajikan ilusi secara kasar selalu dapat dengan mudah di dudukkan pada porsi yang benar. Namun penjelasan mengenai ilusi yang halus sulit diterima si anak. Contoh yang menurutku halus (dan bisa saja penuh tipu, karena suit memastikan bahwa undian tersebut memang dilakukan) adalah banyaknya iklan mengenai produk yang memberikan hadiah berdasarkan undian. Timbul keinginan pada anak untuk selalu membeli produk tersebut (dan itu memang tujuan iklan tersebut) agar menang undian. Dari sini si anak mulai senang berspekulasi (siapa tahu menang undian, padahal sebenarnya kemungkinannya sangat tipis). Kesulitan memastikan peranan faktor pendukung terhadap suatu hasil mengakibatkan spekulasi tersebut semakin beresiko dan semakin mengarah ke judi.
Selain media TV, banyak pula lingkungan lain yang penuh ilusi. Dalam suatu lingkungan kerja di suatu tempat yang tidak etis untuk disebutkan, banyak penggunaan dana yang di atas kertas dan dilaporkan ditujukan untuk kegiatan A padahal kenyataannya ditujukan untuk kegiatan B. Intinya adalah mereka cenderung tidak melakukan apa yang dikatakan dan tidak mengatakan apa yang dilakukan. Saking menjamurnya hal seperti ini, maka kalau seorang pejabat mengatakan A aku selalu
guyon dalam hati kecilku "ooo berarti maksudnya bukan A". Contoh mengenai iklan dan lingkungan kerja seperti itu hanya dua dari sekian banyak contoh mengenai ilusi yang menurutku sangat menurunkan moral, tapi tidak kita sadari dan bahkan banyak dari kita yang justru mendapat penghasilan dari hal itu. Contoh seperti itu merupakan fenomena gunung es dimana yang terlihat adalah pucuknya saja, sementara bagian terbesar tenggelam tidak terlihat. Menurutku, mereka kerja susah payah yang tidak jarang membutuhkan kemampuan dan tenaga yang tidak sedikit, tapi ke arah yang salah lalu tiba-tiba
bum! ternyata mereka kerja untuk sesuatu yang kosong (atau bahkan busuk) namun dibungkus dengan sesuatu yang indah. Dikatakan tidak jarang membutuhkan kemampuan dan tenaga yang tidak sedikit karena tidak jarang kegiatan seperti itu melibatkan juga strategi yang rumit dan kebohongan yang semakin sistematik dan dalam.
Aku selalu yakin bahwa dampak dari ilusi semacam itu sangat merugikan dan bersifat tidak hanya sesaat. Gelombang pikiran dari orang yang terbiasa dengan suasana tersebut pasti berbeda dengan orang yang menolak suasana tersebut (walaupun orang yang menolak tersebut tidak mampu mencegah kejadian tersebut). Orang yang menolak tersebut akan senantiasa waspada. Kalau orang tersebut punya anak dan melihat anak mulai terpengaruh, pasti dia akan berusaha menjelaskan kedudukan yang sebenarnya. Pada saat tidurpun, gelombang pikiran orangtua dengan anak pun terhubung sehingga gelombang pikiran sianak dapat terpengaruh (ini sulit dibuktikan tapi dapat dirasakan ... kalau ada yang tertarik, kita bisa kupas hal ini lebih lanjut).
Apa jadinya masa depan jika anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan ilusi (kepalsuan dan kebohongan) dan judi ? Mengapa mereka (sebagai orang tua) hidup hanya untuk menularkan hal seperti itu (kan kita semua 100% akan meninggal ) ? Mudah2an aku, keluargaku, keturunanku, saudaraku, temanku dan orang-orang yang kukenal tidak termasuk ke dalam golongan orang yang demikian. Amin.